ARTICLE AD BOX
Jakarta, carpet-cleaning-kingston.co.uk --
Kejaksaan Agung menilai anak dari saudagar minyak Mohammad Riza Chalid, Muhammad Kerry Andrianto Riza (MKAR) memperoleh untung dari pengadaan impor minyak mentah dan impor produk kilang Pertamina.
MKAR merupakan Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa.
Tim interogator JAM PIDSUS Kejaksaan Agung menemukan perbuatan melawan norma dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina (Persero), Sub Holding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Tahun 2018-2023 nan diduga dilakukan MKAR berbareng enam tersangka lainnya.
Para tersangka lain dimaksud adalah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan; Direktur Utama PT Pertamina International Shipping Yoki Firnandi; Direktur Optimalisasi dan Produk Pertamina Kilang Internasional Sani Dinar Saifuddin.
Kemudian Vice President Feedstock Manajemen pada PT Kilang Pertamina Internasional Agus Purwono; Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak Gading Ramadhan; dan Dimas Werhaspati selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim Nusantara.
Mereka sudah ditahan untuk 20 hari pertama.
Tim JAM PIDSUS Kejaksaan Agung memulai investigasi kasus dugaan korupsi tersebut sejak tahun lampau di mana Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) pertama dikeluarkan pada 24 Oktober 2024.
Sebanyak 96 orang saksi telah dilakukan pemeriksaan. Kemudian ada penyitaan terhadap 969 arsip dan 45 Barang Bukti Elektronik (BBE).
"Akibat adanya beberapa perbuatan melawan norma tersebut telah mengakibatkan adanya kerugian negara sekitar Rp193,7 triliun," ungkap Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung Abdul Qohar di Kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (25/2).
Nilai tersebut meliputi kerugian ekspor minyak mentah dalam negeri sekitar Rp35 triliun, kerugian impor minyak mentah melalui DMUT/Broker sekitar Rp2,7 triliun, kerugian impor BBM melalui DMUT/Broker sekitar Rp9 triliun, kerugian pemberian kompensasi (2023) sekitar Rp126 triliun, dan kerugian pemberian subsidi (2023) sekitar Rp21 triliun.
MKAR dkk disangkakan melanggar Pasal 2 ayat 1 alias Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
MKAR dkk disebut telah melakukan pemufakatan jahat dalam aktivitas pengadaan impor minyak mentah oleh PT Kilang Pertamina Internasional dan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga.
Pemufakatan tersebut diwujudkan dengan tindakan (actus reus) pengaturan proses pengadaan impor minyak mentah dan impor produk kilang sehingga seolah-olah telah dilaksanakan sesuai ketentuan dengan langkah pengondisian pemenangan DMUT/Broker nan telah ditentukan dan menyetujui pembelian dengan nilai tinggi (Spot) nan tidak memenuhi persyaratan.
Dalam pengadaan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga, tersangka Riva Siahaan melakukan pembelian (pembayaran) untuk Ron 92, padahal sebenarnya hanya membeli Ron 90 alias lebih rendah kemudian dilakukan blending di Storage/Depo untuk menjadi Ron 92 dan perihal tersebut tidak diperbolehkan.
"Pada saat telah dilakukan pengadaan impor minyak mentah dan impor produk kilang, ada mark up perjanjian shipping (pengiriman) nan dilakukan oleh YF selaku Direktur Utama PT Pertamina International Shipping sehingga negara mengeluarkan fee sebesar 13 persen sampai dengan 15 persen secara melawan norma sehingga tersangka MKAR mendapatkan untung dari transaksi," kata Abdul Qohar.
(dal/ryn)
[Gambas:Video CNN]