ARTICLE AD BOX
Jakarta, carpet-cleaning-kingston.co.uk --
Sebanyak 32 siswa SD di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, mengalami gejala keracunan massal sejak Rabu (6/8).
Seluruh korban telah mendapatkan penanganan dari Puskesmas Cidolog dan sekarang sudah dipulangkan.
Selain sampel dari Makanan Bergizi Gratis (MBG), air juga diambil untuk pemeriksaan. Soal penyebab pasti pemicu keracunan tetap menunggu hasil laboratorium. Diketahui 32 anak tersebut berstatus pelajar dari 4 sekolah di wilayah tersebut.
"Itu baru dugaan, menunggu hasil pemeriksaan lab," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi dalam percakapan tertulis dengan detikJabar, Kamis (7/8).
Agus juga menjelaskan nan terdeteksi mengalami keracunan sebanyak 32 anak. Dugaan sementara dari makanan. Agus kemudian meminta detikJabar menghubungi Kepala Puskesmas Cidolog, Cepi Hermansyah.
"Sudah tidak ada penambahan, sudah selesai. Sampai saat ini, tadi sudah pada pulang," kata Cepi ketika dihubungi.
Dari info nan diberikan, korban berasal dari tujuh kampung, ialah Kampung Tugu (11 orang), Cikadu (4), Ciwaru (1), Ciseupan (1), Pasir Malang (4), Ciawitali (9), Citiis (1), dan Cisuren (1). Mereka mengalami indikasi seperti mual, muntah, diare, demam, sakit perut, dan badan lemas.
Korban dari empat Sekolah
Cepi membenarkan bahwa anak-anak nan mengalami keracunan berasal dari empat sekolah dasar nan berbeda.
"Betul dari empat sekolah," ujar Cepi.
Ia menambahkan, petugas kesehatan sudah melakukan penanganan aktif dengan sistem jemput bola sejak malam kejadian.
"Saya melihatnya ke usia dan lokasi. Tapi malam sudah ditangani semua, jemput bola," katanya.
Saat ditanya apakah keracunan ini berasal dari makanan MBG, Cepi menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan. Berbagai sampel telah dikumpulkan dan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium.
"Belum ada pembuktian, jadi kudu ada penilaian dulu dari sampel. Segala kemungkinan kami ambil. Sampel makanan MBG diambil, air juga diambil. Kemungkinan kan banyak, dari air bisa, dari cuaca juga bisa. Jadi semua diambil sampelnya. Nanti bisa ketahuan dari hasil labnya," tutur Cepi.
Berita selengkapnya di sini.
(gil)
[Gambas:Video CNN]