ARTICLE AD BOX
Jakarta, carpet-cleaning-kingston.co.uk — Sebelum masa jabatannya berakhir, Presiden Joko Widodo sempat menyorot perputaran duit nan menyusut di Indonesia.
Jokowi menilai masalah itu muncul lantaran duit masyarakat kebanyakan masuk ke instrumen investasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
"Jangan-jangan terlalu banyak nan dipakai untuk membeli SBN, alias SRBI alias SVBI, sehingga nan masuk ke sektor riil menjadi berkurang," kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2023 lalu.
Setelah menyampaikan kekhawatirannya itu, likuiditas bank sempat menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan biaya pihak ketiga (DPK) mengalami akselerasi, walaupun tetap terpaut jauh dibandingkan dengan pertumbuhan kredit.
Tetapi, hingga paruh pertama tahun 2025, pertumbuhan DPK kembali melambat, tidak jauh dari pertumbuhan angsuran nan juga terus menurun. Per Juli, DPK tercatat tumbuh 7,00% secara tahunan alias year on year (yoy). Pertumbuhan itu meningkat dari Juni dan Mei nan masing-masing sebesar 6,96% dan 4,29%.
Meski demikian, pertumbuhan DPK terkini tetap di bawah pertumbuhan kredit, ialah sebesar 7,77% yoy per Juli 2025. Padahal, pertumbuhan angsuran melesu, sebulan sebelumnya di posisi nan sama 7,77% dan pada bulan Mei sebesar 8,43%.
Kondisi ini terjadi seiring dengan menurunnya alokasi pengeluaran penduduk Indonesia untuk tabungan, apalagi sampai mencetak rekor terendah, setidaknya hingga 2019.
Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia (BI) periode Juli 2025 nan baru dirilis pada awal bulan (8/8/2025), proporsi alokasi pengeluaran untuk konsumsi di Juli 2025 sebesar 75,4% naik dari bulan sebelumnya ialah 75,1%. Sementara alokasi untuk angsuran pinjaman di Juli sebesar 10,9% naik tipis dari 10,8% pada Juni.
Hal nan paling menarik dari survei Juli ini adalah persentase alokasi untuk tabungan nan tercatat pada Juli hanya sebesar 13,7% turun lebih dari 100 pedoman poin (bps) dari periode Juni nan sebesar 14,9%, sekaligus mencatatkan nan proporsi nan terendah sepanjang sejarah survey dilakukan.
Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk ditabung terus mengalami penurunan. Berdasarkan info survey BI bahwa proporsi pengeluaran masyarakat untuk tabungan pada Juli 2025 mengalami penyusutan di seluruh golongan pengeluaran dibandingkan Januari 2023.
Penurunan paling tajam tercatat pada golongan masyarakat dengan pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta per bulan, di mana proporsi untuk tabungan ambruk dari 18,8% menjadi hanya 13,9% alias turun sekitar 4,9 poin.
Sementara itu, untuk golongan pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta dan Rp3,1-Rp4 juta juga mencatat penurunan masing-masing sebesar 3,6 poin menjadi 13,6% dan 13,7%.
Untuk survey berasas golongan masyarakat dengan penghasilan lebih dari Rp5 juta per bulan juga mengalami penurunan dengan proporsi tabungan turun dari 18,6% di Januari 2023 menjadi 15,8% pada Juli 2025 alias turun 2,8 poin.
Merosotnya proporsi pengeluaran masyarakat untuk tabungan ini terjadi seiring dengan meningkatnya pengeluaran untuk konsumsi.
Kenaikan nilai peralatan untuk kebutuhan pokok, beban utang, membikin banyak masyarakat perlu untuk mengeluarkan duit lebih besar untuk konsumsi dan mengorbankan pengeluaran untuk tabungan mereka.
Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan bahwa tabungan orang kaya bertumbuh tinggi jauh melampaui tabungan pengguna kelas menengah bawah.
Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa simpanan tiering di bawah Rp100 juta hanya bertumbuh 4,76% yoy per Juli 2025. Sementara itu, simpanan tiering di atas Rp5 miliar bertumbuh 9,45% yoy pada periode nan sama.
"Jadi kelihatannya nan di atas tumbuhnya lebih kencang dibanding nan bawah ya," kata Purbaya saat Konferensi Pers Penetapan TBP LPS, di Kantor Pusat LPS, Pacific Century Place, Selasa (26/8/2025).
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article
Genjot Likuiditas Saat DPK "Seret", Perbankan Diminta Lakukan Hal Ini